Perubahan iklim menjadi tantangan tersendiri karena produksi kakao sangat bergantung pada kondisi iklim.
Kekeringan berkepanjangan, pola curah hujan yang tidak menentu, peningkatan suhu, dan penyebaran hama serta penyakit mempengaruhi hasil kakao dan mata pencaharian petani.
“Seiring dengan meningkatnya permintaan global akan kakao berkualitas, pengembangan pertanian kakao berkelanjutan menjadi sangat penting untuk diterapkan oleh petani untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan meningkatkan produktifitas kakao di Aceh,” pungkas Pj Bupati Aceh Timur Amrullah M Ridha.
Agen Kakao Aceh Timur dan Aceh Tenggara Dilatih
Disamping itu, puluhan Agen Kakao dari Kabupaten Aceh Timur, dan Aceh Tenggara, dan kolektor mengikuti pelatihan penggunaan aplikasi KoltiTrace MIS yang dipandu oleh tim Koltiva, dibawah PT Hasil Bumi Raya Mandiri (HBRM), di Hotel Saka, Medan Kamis-Jumat (30-31/2/2024).
Pelatihan penggunaan aplikasi ini bertujuan untuk melakukan pencatatan mulai dari Agen melakukan pembelian dari petani tersertifikasi hingga agen melakukan penjualan/pengiriman kepada Kolektor hingga penjualan kepada PT HBRM dan pembeli lebih tinggi diatasnya.
Menurut narasumber dalam pelatihan itu, berdasarkan peraturan uni eropa terbaru/ pasar global perusahaan terbesar Kakao dunia baru melakukan pembelian jika memenuhi peraturan yang berlaku, yaitu rantai pasok mulai dari petani, agen, kolektor dan perusahaan tercatat secara jelas untuk meminimalisir melanggar aturan. (*)